mengutip sebuah cerita pendek mengenai seorang penjual jagung dan seorang anak muda yang hendak bepergian. cerita ini memang bukan aku yang menceritakan. Namun cukup menginspirasi kita untuk maju dalam hidup.
saya benar-benar bingung. Bagaimana seorang manusia bisa bertahan, ah
bergerak lebih tepatnya. Kejadian yang saya akan ceritakan ini mungkin
sudah terjadi banyak tahun silam. tapi baru sekarang sempat saya
tautkan. ah kamu pun tahu alasannya, ya karena sekarang bersamaku sudah
ada kopi dan rokok. Oh kemarin-kemarin saya juga bersama mereka, kopi
dan rokok. Tetapi tak senikmat malam ini. karena, ini kopi dari toraja,
oh sudah lama aku mengidam-idamkannya. Kalau soal rokoknya, kamu mungkin
tidak akan pernah tahu selama kalian masih memperdebatkannya. ya, itu
untuk agama juga, kalian tidak akan pernah tahu nikmatnya beragama, jika
kita masih memperdebatkannya. Aku kira begitu. maaf tersesat sejenak.
saya akan melanjutkan niatan saya untuk mengisahkan sebuah cerita, jika
kamu berkenan. Terima kasih. Toh walaupun ada yang tidak berkenan, itu
tidak sedikitpun menggangguku.
dulu sekali, ketika saya akan berangkat ke surabaya untuk menemui
seorang teman, yang itu mengharuskan saya merapat ke stasiun. Dan saya
juga tahu ritual yang sangat membosankan ketika di stasiun, yaitu
menunggu kereta datang. Suatu saat nanti, saya ingin kereta yang
menunggu saya, nantilah kalau sempat. Dan ritual itu akan saya lalui
dengan mata yang menangkap gelagat-gelagat di stasiun. kursi tunggu yang
panjang, bunyi khas stasiun yang sangat khas, orang-orang serba
tergesa-gesa, juga ada orang marah dan berbicara sendiri, oh itu telepon
genggam, maaf. para penjaja makanan yang sungguh tangguh, para muka
mencurigakan yang tetap tulus, para calo tiket. Ah banyak sekali. Hingga
akhirnya mata mendaratkan pilihannya. Di sebuah sudut stasiun ini,
sesosok pria tua yang bersender di tiang bangunan. Entah, karena lelah,
atau sedang menikmati harum stasiun, seperti yang sering aku lakukan.
Lalu derap kaki melakoni tugasnya sendiri, saya menghampiri pria tua
itu. Oh dan dia ternyata penjual jagung dan kacang rebus. Jangan kau
bayangkan dia memakai gerobak, dia memikulnya kawan. Ya aku tahu, kamu
cerdas, tidak mungkin kamu memikirkan itu. lalu saya bercakap-cakap
dengan beliau, bapak itu sungguh ramah. Saya akan beritahu percakapan
saya dengan beliau, sedikit saja, asal kita senang. percakapan yang
ditulis ini saya mulai sesudah saya membeli dua buah jagung rebus dan
memakannya disamping beliau. Dan percakapan ini sudah saya alih
bahasakan dari bahas jawa ke bahasa indonesia, biar terlihat nasional
saja. begitu ya.
"mau kemana nak?"
"oh mau ke surabaya pak, bekunjung ke tempat teman"
"kereta ke surabaya masih setengah jam lagi nak"
iya pak, saya suka berlama-lama di stasiun, hehehe" (padahal karena saya salah lihat jadwal pemberangkatan)
"hahaha" bapak itu tertawa mengerti, mengerti kalau saya bohong, mungkin.
"sudah lama pak jualan?' entah kenapa saya tiba-tiba melempar pertanyaan itu. Saya tidak pandai berbasa-basi
"maksudnya? kalau berjualan di stasiun ini baru dua bulan lalu, tetapi
kalau yang dimaksud berjualan jagung sudah sejak saya menikah"
"keliatannya sudah lama pak, lumayan hasilnya pak?" (tanpa basa-basi lagi)
"hasil yang mana dulu nak, hasil materi apa hasil kepuasan?"
dan inilah jawaban yang tidak pernah saya duga dari seorang penjual jagung
"boleh saya tahu kedua-duanya pak?"
"hahhaha,ya boleh nak. Kalau hasil dari materi memang tidak seberapa.
adik sendiri pasti sudah tahu hasil dari berjualan jagung berapa,
ditambah lagi minat masyarakat sekarang sudah mulai menurun, entah
karena apa, tetapi kalau dari kepuasan, Bapak tidak munafik kalau bapak
sangat mencintai pekerjaan ini. jagung sudah menghidupi keluarga bapak
selama puluhan tahun. Anak bapak dapat menjadi seperti sekarang juga
karena jagung"
"memang anak bapak sekarang dimana?"
"sudah kerja di jakarta nak, dia dulu kuliah di UGM, lalu 3 bulan
setelah lulus, dia mendapat panggilan kerja di jakarta" bapak itu
seperti sedang menerawang.
"oh tapi masih sering bertukar kabar kan pak?" (ini efek terlalu banyak menonton TV, terlalu mendramatisir)
"iya nak, dia setiap 6 bulan sekali juga mengunjungi bapak dan ibunya,
juga adik-adiknya, tapi yang bikin bapak bingung, anak bapak sering
mengirimi uang dalam jumlah banyak, sedang bapak tidak tahu untuk apa
uang itu akan digunakan"
Saya sekarang yang kebingungan. Tidak tahu lagi akan melemparkan pertanyaan apa. Bapak itu seperti mengerti, dia lalu melanjutkan ceritanya.
Saya sekarang yang kebingungan. Tidak tahu lagi akan melemparkan pertanyaan apa. Bapak itu seperti mengerti, dia lalu melanjutkan ceritanya.
"setiap anak bapak pulang, dia selalu kebingungan mengapa rumah kami
masih seperti dulu, mengapa bapak tidak membeli motor yang baru, dan ya,
bapak ceritakan apa adanya, bapak tidak tahu akan mau dibangun seperti
apa rumah bapak, menurut bapak, rumah itu masih nyaman untuk ditinggali,
dan jika pun dibangun menjadi rumah yang bagus, entah keluarga bapak
akan betah atau tidak, bapak selalu berpikir, betapa repotnya jadi orang
kaya itu, harus punya ini, itu, punya mobil, punya peralatan
macam-macam, bapak nyaman begini nak. lalu anak bapak akan bertanya
kemana uang yang setiap bulan dikirimkan? ya bapak jawab apa adanya
juga, sebagian ditabung untuk naik haji, bapak sudah lama memimpikan
itu. Sebagian diberikan kepada orang"
"anak bapak tidak marah?"
"hahaha dulu bapak juga takut dia akan tersinggung, tapi dia tidak, anak bapak mengerti."
"pak, kalau bapak setiap bulan dikirimi uang dalam jumlah banyak, mengapa bapak masih berjualan jagung?"
"haha sudah saya bilang nak, berjualan jagung bukan hanya soal materi,
tapi juga soal perasaan. bapak dulu pernah mencoba berhenti berjualan,
itu pun karena diminta anak bapak, katanya tidak tega. Tapi baru
beberapa minggu, bapak berjualan lagi, bapak tidak betah hanya diam
dirumah, lalu apa bedanya bapak dengan orang yang sudah mati?"
lalu bunyi khas stasiun memenggal percakapan kami. Ting tong ting tong,
ah saya saat itu sangat membenci suara itu, padahal suara itu yang saya
tunggu.
"tampaknya kereta yang adik tunggu sudah datang"
"iya pak, saya berangkat dulu, terima kasih sudah mau bercakap-cakap dengan saya"
"saya yang terima kasih nak"
"kalau saya kembali, boleh saya mampir ke rumah bapak?"
bapak itu tampak sumringah, "boleh sekali nak"
lalu bapak itu mendekte saya, yang tampaknya itu memang sebuah alamat,
oh ya sebuah alamat, saya mencatatnya. Lalu bapak itu tampak
tergesa-gesa memasukkan beberapa jagung dan kacang rebus ke dalam tas
kresek hitam. Lalu menyodorkannya.
"ini untuk oleh-oleh teman adik, biar dia merasakan jagung juga"
Ah, bapak itu sudah sedari tadi memberi oleh-oleh kepada teman saya.
Sebuah cerita yang sangat menyenangkan. saya mengucap terima kasih
berkali-kali. bukan hanya untuk jagungnya, tetapi juga untuk ceritanya.
di dalam kereta, saya termangu. Seorang manusia diciptakan bukan hanya
untuk berdiam, tapi untuk bergerak, dan yang bisa membuat seorang
manusia itu bergerak dengan tenang, adalah pilihan hidupnya. Tidak
peduli bagaimana perkataan orang, tetaplah bergerak, selama menjadi diri
sendiri dan tidak merugikan orang lain. dan jika kamu masih saja
menunggu, jadilah batu, batu.
Kadang pilihan hidup seseorang memang aneh, serba lamat, serba gelap,
tapi bagi mereka, yang berani memilih, itu adalah sebuah pernyataan
hidup bahwa "bukan dunia yang akan merumuskanku akan menjadi apa, tetapi
aku yang akan merumuskan duniaku akan menjadi seperti apa"
Sampai sekarang, saya belum sempat bertandang ke rumah bapak penjual
jagung itu, dan jika kamu ada waktu, bolehlah kamu temani aku bertamu
kesana, jika berkenan.
oke saya lihat kamu sudah bosan. saya sudahkan tulisan ini dengan
mengambil kata-kata dari sebuah buku yang sepertinya penulisnya bernama
Phutut EA "sesuatu diutus bukan untuk lelah dan sia-sia"
dikutip dari : resahkata.blogspot.com
Judul Nya apa
ReplyDelete